Dialog RRI Bahas Strategi Adaptasi Iklim untuk Ketahanan Pangan
Gorontalo, 2 Februari 2026 – Isu perubahan iklim yang semakin nyata dampaknya terhadap sektor pertanian menjadi perhatian dalam program dialog Tamu Kita yang disiarkan RRI Gorontalo, Senin (2/2/2026). Mengangkat tema “Adaptasi Iklim Pertanian untuk Ketahanan Pangan”, dialog ini mengulas berbagai tantangan dan strategi yang perlu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan di daerah.
Dialog yang mengudara melalui Pro 1 FM 101,8 MHz ini juga dapat diikuti masyarakat melalui live streaming RRI Digital serta kanal YouTube resmi RRINet Gorontalo. Acara dipandu oleh presenter Nurainsyah Banggai dengan menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Patta Sija, S.Si., M.Si., Pengawas Benih Tanaman Ahli Muda Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Gorontalo, dan Prof. Dr. Mohamad Ikbal Bahua, S.P., M.Si., Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam dialog tersebut, para narasumber menyoroti pentingnya langkah adaptasi di sektor pertanian sebagai respons terhadap variabilitas iklim yang semakin ekstrem. Perubahan pola hujan, suhu, dan kejadian cuaca ekstrem dinilai berpotensi memengaruhi produktivitas tanaman, sehingga diperlukan penerapan teknologi adaptif, pengelolaan lahan yang berkelanjutan, serta penguatan kapasitas petani dan penyuluh.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Patta Sija, S.Si., M.Si., menyoroti aspek teknologi dan inovasi pertanian dalam menghadapi iklim ekstrem. Ia menekankan pentingnya pemilihan benih unggul yang tahan terhadap kekeringan maupun kondisi iklim ekstrem. Selain itu, pengembangan komoditas pangan lokal seperti sagu dan porang dinilai memiliki potensi besar sebagai alternatif sumber pangan. Beliau juga mendorong penerapan teknik budidaya tumpang sari dan menghindari sistem monokultur guna meningkatkan ketahanan sistem pertanian terhadap risiko iklim.
Sementara itu, Prof. Dr. Mohamad Ikbal Bahua, S.P., M.Si., menekankan pentingnya penerapan pertanian berkelanjutan sebagai upaya adaptasi terhadap perubahan iklim. Ia menyoroti perlunya menjaga kualitas dan kesehatan tanah melalui pengelolaan yang bijak serta mendorong diversifikasi tanaman. Menurutnya, petani tidak hanya bergantung pada padi dan jagung, tetapi juga perlu mengembangkan sumber pangan lain seperti umbi-umbian sebagai langkah memperkuat ketahanan pangan.
Diskusi ini menegaskan bahwa adaptasi iklim di sektor pertanian memerlukan pendekatan terpadu, mulai dari pengelolaan sumber daya lahan, inovasi teknologi, hingga diversifikasi komoditas pangan. Sinergi antara peneliti, akademisi, pemerintah, penyuluh, dan petani menjadi kunci untuk mewujudkan sistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.
Melalui dialog ini, RRI Gorontalo diharapkan dapat menjadi ruang edukasi publik sekaligus mendorong kesadaran masyarakat dan pemangku kepentingan akan pentingnya adaptasi iklim sebagai bagian dari strategi pembangunan pertanian berkelanjutan.